ANTISIPASI BANJIR PADA AREA KELAPA SAWIT

Drone dalam praktiknya memang banyak digunakan oleh industri kelapa sawit. Kebutuhan perusahaan kelapa sawit akan peta visual terus berlanjut, dimulai dari pembukaan lahan hingga kegiatan audit. Dari industri kelapa sawit-lah pemanfaatan drone di Indonesia semakin meluas sampai saat ini. Pemilihan drone sebagai teknologi dalam pembuatan peta dirasa tepat, karena drone sendiri dapat menghasilkan peta yang akurat dan faktual. Dengan adanya peta yang akurat dan faktual, perusahaan kelapa sawit dapat semakin mudah melihat kondisi lahan, terutama saat curah hujan tinggi seperti baru-baru ini.

Curah hujan yang cukup tinggi berimbas pada produktivitas industri kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan tumbuhan monokotil (berakar serabut) yang pada dasarnya tidak dapat menyerap air dengan baik, sehingga di musim hujan air akan menggenang. Banyaknya genangan air di area lahan kelapa sawit dialami bukan hanya oleh satu atau dua perusahaan, melainkan mayoritas sektor kelapa sawit memiliki permasalahan yang sama. Jika dibiarkan, genangan tersebut akan memengaruhi produktivitas pertumbuhan kelapa sawit itu sendiri. Akibatnya, sering terjadi ketika tanaman sawit sudah besar, baru dipikirkan usaha penanggulangan ini karena banyak daerah tergenang air.

 

Salah satu fakta yang sering dijumpai oleh AeroGeosurvey di lapangan pun adalah banyaknya area yang terendam banjir. Hal tersebut menunjukan masih kurangnya penanggulangan tiap perusahaan terhadap banjir yang terus menerus terjadi.  Banyak upaya penanggulangan yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit. Seperti terlansir dalam Sawit Indonesia, dengan melakukan manajemen lahan gambut. Lahan gambut yang sering dianggap datar memang perlu perhatian lebih, karena ketebalan gambut akan berbeda-beda dan tidak bisa dipastikan secara kasat mata dimana kubah gambut yang  memiliki kontur lebih tinggi tersebut berada. Disampaikan juga dalam Sawit Indonesia, bahwa semakin ke arah kubah, kesuburan tanah akan semakin berkurang.

Drone sendiri sebagai teknologi akuisisi data dalam pembuatan peta mampu menjadi solusi dalam permasalahan ini. Peta klasifikasi lahan merupakan salah satu langkah awal dalam melihat kondisi lahan. Peta klasifikasi lahan disini dapat mengklasifikasikan area-area mana saja meliputi area banjir, area siap tanam, ataupun area hutan. Data dan informasi yang dikumpulkan tersebut kemudian diolah dan menjadi dasar untuk merencanakan strategi perbaikan tata air lahan. Selain itu, dengan adanya klasifikasi yang detail, tentu saja bukan hanya menjadi solusi penanggulangan banjir, melainkan sebagai acuan dalam berbagai perencanaan.