All posts by humasptpn1

Tingkatkan Imunitas PTPN I Aceh Bagikan Bubur Kacang Hijau

Langsa, 7 November 2021 PTPN I melaksanakan program tanggung jawab sosial & Lingkungan di Lapangan Merdeka Kota Langsa, membagi 350 paket bubur kacang hijau kepada masyarakat yang sedang melaksanakan olahraga di seputaran lapangan merdeka Kota Langsa, kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dilaksanakan pada Minggu keempat setiap bulan berjalan, semoga kegiatan ini bisa bermanfaat kepada masyarakat dan selalu terjaga daya tahan tubuh sehingga dapat terhindar dari serangan virus covid-19, kegiatan yang laksanakan oleh PTPN I pada pagi hari ini disambut sangat antusias oleh masyarakat dan sebagian besar masyarakat berpesan semoga acara kegiatan bagi bubur gratis oleh PTPN I dapat dilaksanakan setiap Minggu sehingga warga Kota Langsa selesai berolah raga di pagi Minggu dapat menikmati bubur kacang hijau untuk penambahan gizi, dan semua penerima bubur pada pagi ini mendoakan agar PTPN I tetap selalu eksis dalam berbagi kepada masyarakat, Rusli Achmad, Staf Humas & Protokoler bersama Samsuar Staf Urusan TJSL PTPN I mewakili manajemen PTPN I saat memberi keterangan kepada awak media antusiasnya masyarakat dalam menerima bubur gratis yang disediakan oleh PTPN I merupakan sebuah kebanggaan dan kebahagiaan karena kehadiran PTPN I ditengah-tengah masyarakat diterima dengan baik semoga kami karyawan PTPN I tetap semangat dan selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan tugas sehingga PTPN I bisa selalu berkontribusi untuk masyarakat Kota Langsa.

IKATAN KELUARGA BESAR ISTRI (IKBI) PTPN I MENYALURKAN 252 PAKET UNTUK MANDI DAN SEMBAKO KEPADA SANTRI BUSTANUL HUDA

Langsa, 15 Oktober 2021, Ikatan keluarga besar istri (ikbi) PTPN I melaksanakan Jum’at berkah dengan memberikan bantuan kepada santri Bustanul Huda yang lokasi nya di bekas ISLAMIC CENTRE Kota Langsa yang sudah dialih fungsikan menjadi salah satu dari pesantren binaan Ulama Aceh Abu Paya Pasi, Santi Ahmad Gusmar Harahap menyampaikan dalam press realese kegiatan Jum’at berkah yang dilaksanakan oleh ibu-ibu istri dari karyawan PTPN I yang telah dimulai sejak tanggal 20 November 2020, Alhamdulillah kegiatan ini dapat terlaksana sampai dengan hari ini, atas dasar hal ini lah kami dari pengurus IKBI PTPN I mengucapkan terima kasih kepada Direktur PTPN I beserta jajarannya yang telah memberi dukungan moril maupun materi sehingga kegiatan Jum’at berkah bisa terselenggara setiap dua Minggu sekali pada setiap bulan berjalan, Santi Ahmad Gusmar Harahap selaku Ketua Umum IKBI PTPN I mengharapkan kegiatan mulia ini tetap berlangsung tanpa ada batas semoga para ibu-ibu tetap semangat dan bisa selalu berdonasi serta berkontribusi kepada masyarakat sehingga keberadaan PTPN I dapat dirasakan oleh masyarakat lingkungan perusahaan, Santi Ahmad Gusmar Harahap Ketua Umum IKBI PTPN I pada saat mengakhiri dari pembagian bantuan ini menyampaikan kepada santri yang sudah menerima bantuan jangan lah dilihat dari harga bantuannya namun lihatlah atas ketulusan kami dalam berbagi sehingga santri dapat terbantu, doa kan kepada kami semoga program kegiatan Jum’at berkah ini dapat terlaksana secara rutin serta doa kan juga kepada perusahaan PTPN I semoga dapat berjalan dengan baik sehingga kondisi keuangannya semakin baik sehingga dapat selalu berkontribusi kepada masyarakat Kota Langsa dan pada umum nya masyarakat Provinsi Aceh

Dukung EBT, PTPN Group Implementasikan Pengembangan Bioenergi

HOLDING Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) secara aktif mendukung program implementasi pengembangan bioenergi, sebagai wujud dukungan dan sinergi dalam pengembangan dan pencapaian target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional. Sebagaimana diketahui, Pemerintah  melalui PP No.22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) telah menetapkan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025, sementara berdasarkan data Kementerian ESDM realisasi hingga tahun 2020 baru tercapai 11,51%.

Dukungn itu dilaksanakan dalam program kerja perusahaan yang sejalan antara lain melalui penggunaan biomassa perkebunan sebagai sumber energi utama, hilirisasi bisnis perkebunan, serta optimasi & pengembangan pembangkit listrik maupun sumber EBT lainnya.  Program tersebut dilaksanakan secara mandiri maupun bekerjasama dengan mitra strategis.Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menjabarkan bahwa   PTPN III beserta seluruh Anak Perusahaan, telah memanfaatkan EBT sebagai sumber energi utama yang digunakan untuk operasional industri perkebunan.  ”Total produksi listrik berbasis EBT di PTPN Group sebesar 318 MW atau setara 1.831.680 MWh/tahun, sumber energi ini dapat dimanfaatkan untuk operasional di Perkebunan” papar Ghani.  Dari 318 MW energi yang dihasilkan, lanjut Ghani, potensi pengurangan emisi (dekarbonisasi) mencapai  1,9 Juta Ton CO2/tahun.  Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan Pabrik Gula (PG) dari awal perkembangannya telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional pabrik. PKS menggunakan cangkang dan  serabut (fiber) kelapa sawit sebagai bahan bakar utama pembangkit listriknya, sementara PG menggunakan bagas tebu sebagai bahan bakar utama pembangkit listriknya. PTPN group memiliki 75 unit PKS yang menggunakan sumber EBT (cangkang & fiber) sebagai sumber energi utama dengan total kapasitas listrik yang dihasilkan 80 MW  (Mega Watt) serta memiliki 31 Unit PG yang menggunakan  sumber EBT (ampas tebu/bagas) sebagai sumber energi utama dengan total kapasitas listrik yang dihasilkan 198 MW.Pembangkit EBT yang saat ini dimiliki PTPN Group antara lain pembangkit listrik berbasis tenaga air/hidro (PLTA) sejumlah 10 unit (total kapasitas 17,14 MW), berbasis biomassa (PLTBm) sejumlah 2 unit (total kapasitas 9,2 MW), berbasis biogas dari POME (PLTBg) sejumlah 9 unit (total kapasitas 11,35 MW) dan berbasis tenaga matahari (PLTS) 1 unit (kapasitas 2 MWp). PTPN Group saat ini juga sedang berupaya melakukan optimasi aset pembangkit listrik EBT yang dalam kondisi idle (tidak beroperasi atau beroperasi kurang optimal) melalui kerjasama dengan mitra strategis demi mendukung pencapaian target bauran EBT pemerintah sebesar 23% di tahun 2025.Ghani juga  menjelaskan, bahwa saat ini PTPN Group tengah melakukan inisiasi kerjasama pemanfaatan limbah perkebunan  sebagai sumber EBT dengan beberapa mitra strategis. “ Saat ini kami sedang menjalankan beberapa program inisiasi kerjasama pemanfaatan limbah perkebunan  sebagai sumber EBT dengan beberapa mitra strategis. Adapun  program yang saat ini sedang berjalan antara lain : Penyediaan Biomassa untuk Cofiring PLTU PT PLN, Pengembangan Biogas Cofiring di PKS PTPN Group, Pengembangan Bio-CNG di PKS PTPN Group, dan Pengembangan Biopelet dari Tandan Kosong,” tandasnya. PTPN Group sebagai salah satu pelaku bisnis sangat mengharapkan bahwa ke depan pengembangan EBT mendapatkan dukungan regulasi pemerintah yang cukup memadai sehingga menguntungkan bagi semua pihak.  Khususnya dari sisi komersial dimana sumber energi baru dan terbarukan seharusnya lebih dihargai dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada sumber energi fosil sehingga lebih menarik banyak pihak untuk dikembangkan. Pengembangan sumber energi baru dan terbarukan tetap perlu dilanjutkan dan ditingkatkan demi mewujudkan terpenuhinya kebutuhan energi nasional di masa kini dan nanti. (RO/E-1)

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/ekonomi/439420/dukung-ebt-ptpn-group-implementasikan-pengembangan-bioenergi

PTPN III Manfaatkan EBT Jadi Sumber Listrik Industri Perkebunan

Pemerintah Indonesia melalui PP Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) telah menetapkan target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025, sementara berdasarkan data Kementerian ESDM realisasi hingga tahun 2020 baru tercapai 11,51%.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Muhammad Abdul Ghani mengatakan, PTPN III beserta seluruh anak perusahaan telah memanfaatkan EBT sebagai sumber energi utama yang digunakan untuk operasional industri perkebunan.

”Total produksi listrik berbasis EBT di PTPN Group sebesar 318 megawatt (mw) atau setara 1.831.680 MWh/tahun, sumber energi ini dapat dimanfaatkan untuk operasional di perkebunan” papar Ghani dalam keterangan tertulisnya

a, Jakarta, Selasa (12/10/2021).

“Dari 318 mw energi yang dihasilkan maka potensi pengurangan emisi (dekarbonisasi) sebesar 1,9 Juta ton CO2/tahun,” lanjut Ghani.

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III mendukung program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi nasional melalui peningkatan bauran EBT serta mendukung penuh target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030 melalui program kerja perusahaan yang sejalan antara lain melalui: penggunaan biomassa perkebunan sebagai sumber energi utama, hilirisasi bisnis perkebunan, serta optimasi & pengembangan pembangkit listrik maupun sumber EBT lainnya. Program tersebut dilaksanakan secara mandiri maupun bekerjasama dengan mitra strategis.

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan Pabrik Gula (PG) dari awal perkembangannya telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional pabrik.

PKS menggunakan cangkang dan serabut (fiber) kelapa sawit sebagai bahan bakar utama pembangkit listriknya, sementara PG menggunakan bagas tebu sebagai bahan bakar utama pembangkit listriknya.

PTPN group memiliki 75 unit PKS yang menggunakan sumber EBT (cangkang & fiber) sebagai sumber energi utama dengan total kapasitas listrik yang dihasilkan 80 mw serta memiliki 31 Unit PG yang menggunakan sumber EBT (ampas tebu/bagas) sebagai sumber energi utama dengan total kapasitas listrik yang dihasilkan 198 MW.

Pembangkit EBT yang saat ini dimiliki PTPN Group antara lain pembangkit listrik berbasis tenaga air/hidro (PLTA) sejumlah 10 unit (total kapasitas 17,14 MW), berbasis biomassa (PLTBm) sejumlah 2 unit (total kapasitas 9,2 MW), berbasis biogas dari POME (PLTBg) sejumlah 9 unit (total kapasitas 11,35 MW) dan berbasis tenaga matahari (PLTS) 1 unit (kapasitas 2 MWp).

PTPN Group saat ini juga sedang berupaya melakukan optimasi aset pembangkit listrik EBT yang dalam kondisi idle (tidak beroperasi atau beroperasi kurang optimal) melalui kerjasama dengan mitra strategis demi mendukung pencapaian target bauran EBT pemerintah sebesar 23% di tahun 2025.

Sejak tahun 1942, PTPN Group juga telah mengembangkan bioethanol dari produk samping PG yakni tetes tebu (molasses). Pengembangan produk bioethanol ini tentunya bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ethanol dalam negeri saat ini, namun juga memiliki visi jangka panjang ke depan sebagai salah satu alternatif substitusi BBM berbasis fosil.

Sementara, PTPN Group tengah melakukan inisiasi kerjasama pemanfaatan limbah perkebunan sebagai sumber EBT dengan beberapa mitra strategis.

“Saat ini kami sedang menjalankan beberapa program inisiasi kerjasama pemanfaatan limbah perkebunan sebagai sumber EBT dengan beberapa mitra strategis. Adapun program yang saat ini sedang berjalan antara lain : Penyediaan Biomassa untuk Cofiring PLTU PT PLN, Pengembangan Biogas Cofiring di PKS  PTPN Group, Pengembangan Bio-CNG di PKS PTPN Group, dan Pengembangan Biopelet dari Tandan Kosong,” jelas Ghani.

PTPN Group sebagai salah satu pelaku bisnis sangat mengharapkan bahwa ke depan pengembangan EBT mendapatkan dukungan regulasi pemerintah yang cukup memadai sehingga menguntungkan bagi semua pihak, khususnya dari sisi komersial dimana sumber energi baru dan terbarukan seharusnya lebih dihargai dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada sumber energi fosil sehingga lebih menarik banyak pihak untuk dikembangkan.

Sumber : okezone.com

Pelatihan Guru Diniyah, Guru TKU dan Guru TKA/TPA PTPN I

Langsa, 30 September 2021 Direktur PTPN1 Aceh Ahmad Gusmar Harahap secara resmi membuka Pelatihan Guru Diniyah, Guru TKU dan Guru TKA/TPA seluruh wilayah PTPN1 Aceh di Wisma Bina Warga yang berlangsung selama 2 hari.

Ahmad Gusmar Harahap selaku Direktur PTPN1 Aceh berharap, setiap guru yang memiliki kompetensi pasti akan selalu siap menghadapi berbagai perubahan, perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang kian berkembang.
Pelatihan ini merupakan kesempatan bagi Guru Diniyah, Guru TKU dan Guru TKA/TPA untuk menambah wawasan dan keilmuan khususnya dalam melaksanakan pembelajaran.

UU Cipta Kerja & Moratorium Perkuat Penataan Sektor Sawit Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “UU Cipta Kerja & Moratorium Perkuat Penataan Sektor Sawit” , https://katadata.co.id/jeany/infografik/61540a545d819/uu-cipta-kerja-moratorium-perkuat-penataan-sektor-sawit

UU Cipta Kerja dapat memperkuat upaya perbaikan tata kelola sawit. Ini berkaitan dengan Inpres 8/2018 terkait moratorium sawit yang telah berakhir namun masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah. Baik dalam hal implementasi maupun kekuatan hukum yang mengikatnya. Menurut kajian Strengthening Palm Oil Sustainability in Indonesia (SPOSI), sejumlah keterbatasan menjadi hal yang harus diperhatikan di antaranya ketidakpastian hukum terkait pengaturan tumpang tindih kebijakan perkebunan kelapa sawit di Kawasan hutan dan tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota (RTRWP/K). Tumpang tindih ini disinyalir menjadi sumber utama terbitnya izin Hak Guna Usaha (HGU) dan perizinan perkebunan kelapa sawit bermasalah. Adapun regulasi evaluasi terkait isu ini juga belum sepenuhnya jelas.

Sementara, persoalan lain yang dihadapi juga terkait ketidak jelasan hukum keterlanjuran, pelanggaran, dan ganti rugi terkait perkebunan sawit yang menyasar kawasan hutan. Di sisi lain, penelantaran lahan perkebunan sawit yang tidak produktif selama ini mengalami pembiaran 3 hingga 6 tahun. Perusahaan yang memiliki kewajiban membangun kebun rakyat sebesar 20 persen juga banyak yang mangkir dari tanggung jawab.

Sejumlah persoalan ini membutuhkan penguatan hukum jika aturan terkait moratorium sawit resmi diperpanjang. Terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja beserta peraturan turunannya menjadi peluang bagi perbaikan tata kelola sawit sekaligus dapat mendukung perpanjangan program moratorium sawit. Berbagai aturan turunan UU Cipta Kerja dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan di atas. Di antaranya Peraturan Pemerintah (PP) nomor 20, 23, 24, 26, dan 43 tahun 2021 yang juga telah diterjemakan ke dalam beberapa peraturan kementerian.