Potensi Super Besar Holding Perkebunan

Foto: BUMN Insight/Dharmawan

BUMN Insight, Jakarta – Sebagai Perusahaan Perkebunan terbesar di Asia, Holding BUMN Perkebunan menyimpan potensi super besar. Laba bersih bisa melonjak samPai Rp 21 triliun. Indonesia bisa unggul saat MEA diberlakukan.

Perlu waktu selama 12 tahun untuk menunggu kelahiran Holding BUMN Perkebunan. Penantian itu berakhir di Surabaya, 2 Oktober 2014, ditandai dengan peluncuran oleh Menteri BUMN kala itu Dahlan Iskan. Launching diawali dengan penandatangan dokumen penyerahan saham sebesar 90 persen dari PTPN 1, 2, dan 4 sampai 14 kepada PTPN III, dan dokumen penyerahan saham 100 persen dari PT Inhutani I sampai V kepada Perum Perhutani.

Untuk Holding BUMN Perkebunan, dokumen ditandatangani oleh Dahlan Iskan selaku wakil pemegang saham dan Dirut PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Bagas Angkasa. Mekanisme pengalihan saham negara sebagai tambahan penyertaan modal negara dipilih karena relatif tidak berpengaruh secara langsung terhadap kegiatan operasional perusahaan masing-masing, dalam posisi sebagai anak perusahaan.

Modal awal yang disetor pemerintah untuk PT Perkebunan Nusantara III sebagai holding sebesar Rp 10 triliun, sesuai surat Menteri Keuangan (KMK) RI No 468/KMK.06/2014, tentang Penetapan Nilai Tambah Penyertaan Modal Negara ke dalam modal PTPN III, tanggal 1 Oktober.

KMK tersebut adalah tindak lanjut terbitnya Peraturan Pemerintah RI tentang dua holding tersebut, yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 18 Septemmber 2014. PT Perkebunan Nusantara III menjadi induk dari 13 PTPN lainnya. Menurut Dahlan Iskan, tiga sampai enam bulan setelah peluncuran nama PTPN III berubah menjadi PT Perkebunan Indonesia.

Holding ditujukan untuk peningkatan daya saing BUMN, penciptaan nilai tambah, dan peningkatan profesionalisme BUMN Perkebunan dan BUMN Kehutanan. Tujuan pembentukan Holding BUMN Perkebunan bagi BUMN adalah konsolidasi potensi untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kemampuan pendanaan (leverage), serta efisiensi dan efektivitas usaha yang bermuara pada peningkatan kinerja perusahaan serta kesejahteraan karyawan.

Dengan operasi yang lebih efisien, pendapatan dan laba bisa didongkrak, sehingga secara langsung dapat meningkatkan penerimaan negara dari sisi dividen dan pajak. Belum lagi dampak dalam bentuk multiplier effect bagi perekonomian yang sangat luas. Sedangkan bagi masyarakat terbentuknya holding ini dapat menyerap tenaga kerja baru, menggairahkan perekonomian masyarakat, serta makin efektifnya program-program pengembangaan sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan untuk masyarakat melalui aktifitas CSR dan PKBL.

Kontribusi BUMN Perkebunan diproyeksikan akan meningkat hingga 15 persen setelah terbentuk holding. Potensi super besar Holding BUMN Perkebunan bisa dilacak dari total aset yang dimiliki PTPN I hingga XIV, yang mencapaiRp 69 triliun. Aset yang demikian besar menjadikan Holding BUMN Perkebunan perusahaan perkebunan yang paling kompetitif.

Luas lahan perkebunan setelah dibentuknya holding ini adalah lebih dari 1 juta hektar. Sekretaris Kementerian BUMN Imam A Putro menjelaskan, laba bersih Holding BUMN Perkebunan bisa tembus Rp 21 triliun, dan aset menjadi Rp 121 triliun di 2019. “Pada tahun 2019, penjualan diharapkan pada angka Rp 130,6 triliun, dengan laba bersih Rp 21 triliun, dan ekuitas Rp 66 triliun,” kata Imam. Total asset ke-14 PTPN tersebut pada 2013 mencapai Rp 65,22 triliun, naik dari tahun 2012 sekitar Rp 61,07 triliun.

Total penjualan pada 2014 diperkirakan mencapai Rp 77,59 triliun, dengan laba bersih yang ditargetkan sekitar Rp 4,06 triliun. Dengan potensi super besar pasca holding, Direktur Utama PTPN III Bagas Angkasa optimis perkebunan Indonesia akan unggul saat Masyarakat Ekonomi ASEAN berlaku pada 2015. Satu pekerjaan rumah yang mendesak untuk dibenahi, menurut Bagas, adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia perkebunan Indonesia.

 

Foto: Proyeksi Holding Perkebunan – Timeline terbentuknya Holding Perkebunan (BUMN Insight/Dharmawan)

Tantangan

Deputi Bidang Industri Agro dan Industri Strategis Kementerian BUMN M Zamkhani menegaskan, tantangan ke depan adalah bagaimana agar holding dan anak perusahaan berjalan lebih solid. Holding bukan sekadar “ganti baju”, dengan arah gerak yang tidak berubah seperti sebelum holding, yaitu berjalan dengan visi, misi, konsep, implementasi masing-masing. Zamkhani menyatakan, seluruh BUMN harus lebih solid seiring pembentukan holding. Direksi Holding merumuskan satu model yang sama dalam sejumlah hal. Misalnya pengembangan tanaman. Cara atau metode yang dipilih adalah yang terbaik yang dihasilkan salah satu perusahaan, atau dihasilkan bersama-sama. Holding juga harus mampu merumuskan arah anak perusahaan agar in-line dengan holding.

Persoalan ini juga menjadi sorotan Arief Daryanto, Direktur Program Pasca Sarjana MB-IPB. Ia mengingatkan struktur holding bukanlah satu-satunya penentu daya saing perusahaan. Apalagi dengan adanya perbedaan budaya, perbedaan ukuran perusahaan kecil dan besar, SDM, teknologi, menyebabkan penyatuan dalam bentuk holding tidaklah mudah.

“Dibutuhkan rencana strategis bersama dan membangun mimpi bersama,” kata Arief. Arief mengingatkan jangan sampai yang terjadi adalah merger semu karena anak-anak perusahaan secara hukum berdiri sendiri dan beroperasi sendiri.

“Kita tidak boleh terlalu optimistis, tapi ini merupakan momentum emas setelah ditunggu sekian lama, jangan diganggu, sehingga tujuan menjadi BUMN berkelas dunia dapat tercapai,” jelasnya. Dalam bahasa M Zamkhani, pembentukan holding bukanlah terminal akhir, melainkan justru terminal awal. Terminal akhirnya adalah perkebunan nasional yang maju dan berkembang, kompetitif, unggul di level regional dan global, dan memberi dampak besar bagi pertumbuhan perekonomian nasional.

“Oleh sebab itu, pembentukan ini harus diikuti dengan tekad untuk bekerja keras dan solid, tidak terpisah-pisah seperti selama ini,” pesan Zamkhani. Sebuah penegasan yang penting dan harus digarisbawahi semua pihak.

(Tim BUMN Insight)